Serunya Travelling Wisata Kesehatan di Penang Bersama Malaysia Healthcare

Senang sekali bisa menjadi bagian dari salah satu tim Blogger yang mewakili kota Bandung untuk berkunjung ke Georgetown, Penang pada tanggal 13 Oktober – 16 Oktober 2019 dan menjalani pengalaman wisata kesehatan yang ditawarkan oleh Malaysia Healthcare. Ini bukan kali pertama saya travelling ke Penang, sudah pernah sebulan sebelumnya mengantar Ibu saya untuk berobat ke Penang, dan pulang ke Indonesia membawa hasil yang baik setelah perawatan di salah satu rumah sakit di Penang. Jadi ketika ada undangan dari Malaysia Healthcare, saya langsung excited, karena sudah mengalami sendiribagaimana bagusnya rumah sakit dan perawatan di sana. Selain itu kurs Malaysia juga lebih murah dibandingkan negara tetangga lainnya, wisata kuliner dan shopping juga menjadi lebih menyenangkan.

 

Perjalanan saya dimulai dengan keberangkatan pesawat tim blogger dan media dari Bandara Soekarno Hatta menuju Penang International Airport pk. 06.20 di hari Minggu yang cerah. Tim dari Image Dynamics juga sangat tanggap dalam mengurus keperluan dari sebelum berangkat sampai setibanya di Penang International Airport. 

 

Kami, para blogger juga awak media dijemput dan disambut ramah oleh Farah Delah Suhaimi atau yang kami panggil Kak Farah, sebagai Director Market Development Indonesia, juga para staf Malaysia Healthcare Concierge dan mendapatkan pelayanan di sebuah lounge khusus yang merupakan salah satu layanan end-to-end bebas hambatan (seamless) yang ditawarkan oleh Malaysia Healthcare.

Setelah perjalanan selama 30 menit dari bandara akhirnya kami sampai di Hotel St.Giles, Wembley, namun sebelum check in, kami bersama dengan staf Malaysia Healthcare makan siang bersama di sebuah coffee shop kecil yang unik dengan makanan dan dekorasi melayu peranakan, yang lokasinya pas bersebelahan dengan hotel tempat kami menginap. Saya memesan ayam panggang bumbu turmeric, cukup enak dan unik rasanya, plus ice cube coffee with milk yang merupakan menu khas di coffee shop 1911.

Setelah makan siang, kami lalu check in ke kamar masing – masing, dan saya sekamar dengan Vika, travel blogger dari Surabaya yang kebetulan siang itu belum sampai ke Penang, jadi sempat menikmati kamar yang luas dengan fasilitas kamar hotel yang mewah juga pemandangan kota Georgetown, Penang yang indah ini sendiri, juga mencoba manisan buah yang termasuk di welcoming kit dari Malaysia Healthcare.

 

Pada sore harinya, kami mengikuti press conference dan presentasi dari CEO Malaysia Healthcare, Mrs. Sheren Azli yang menjelaskan mengenai awal mula berdirinya Malaysia Healthcare. Malaysia Healthcare Travel Council adalah lembaga pemerintah di bawah Kementrian Keuangan Malaysia (Ministry Of Finance) yang didirikan tahun 2009 untuk memfasilitasi dan menumbuhkan industri perjalanan kesehatan Malaysia di bawah brand “Malaysia Healthcare” dengan tujuan yang dimaksudkan menjadikan Malaysia sebagai tujuan perawatan kesehatan global terkemuka.

 

Malaysia telah diakui secara internasional sebagai “Best Country in the World for Healthcare” dari tahun 2015 hingga 2017 dan juga tahun 2019 oleh majalah International Living yang berasal dari AS dan menerima penghargaan “Destinasi of the Year” untuk wisata kesehatan dari tahun 2015 hingga 2017 serta penilaian istimewa pada tahun 2018 oleh International Medical Travel Journal yang berasal dari Inggris. 

 

Secara umum, unique selling points dari Malaysia Healthcare adalah sebagai berikut: 

 

Kualitas Berkelas Dunia 

 Rumah sakit dengan kualitas kelas dunia. Standar kualitas dan keamanan di rumah sakit swasta Malaysia adalah sebagai yang patut dicontoh dijadikan tolak ukur dengan yang terbaik di dunia, dan dipantau diatur secara ketat oleh Kementerian Kesehatan Malaysia. 
 Keselamatan dan perawatan pasien dipantau secara ketat oleh Kementrian Kesehatan Malaysia menggunakan Undang – Undang Layanan Fasilitas Kesehatan Swasta (1998). 
 Telah terakreditasi dari Malaysia Joint Commission International (JCI), Malaysian Society for Quality in Health (MSQH), dan Reproductive Technology Accreditation Committee (RTAC) dan agensi – agensi lainnya berada dibawah International Society for Quality in Healthcare (ISQua).
 Profesional berkualitas tinggi yang menerima pelatihan dari lembaga terkenal internasional dari Malaysia, Inggris, AS, Australia dan Eropa. 
 Memiliki keterampilan tinggi, beragam teknik medis, sistem, praktik, dan pemahaman budaya yang berbeda. 

 

Keterjangkauan 

 

 Kementerian Kesehatan Malaysia menetapkan batas tarif tertinggi untuk setiap perawatan kesehatan. Sehingga baik dokter atau profesional tidak bisa mengambil keuntungan untuk diri sendiri dari tarif yang sudah ditetapkan tersebut. 
 Ringgit Malaysia lebih disukai wisatawan untuk melakukan perawatan kesehatan ke Malaysia, dikarenakan harga yang lebih rendah dibandingkan dengan negara pesaing lain di wilayah ini. 

 

 

Kemudahan Akses 

 

 Malaysia memiliki 200 rumah sakit swasta, tidak termasuk klinik gigi dan pusat kesehatan & wellness. 

Mitra Rumah Sakit MHTC terdiri dari 73 anggota rumah sakit swasta aktif untuk wisatawan kesehatan, yang mana mereka terdiri dari 21 anggota elite dan 52 anggota biasa. Untuk informasi lebih lanjut silakan kunjungi https://www.mhtc.org.my/services/mhtc-partners/

 Hampir tidak ada waktu tunggu untuk janji temu untuk konsultasi dan perawatan dengan dokter spesialis, memugkinkan akses waktu yang nyata. 
 Terhubung dengan penerbangan langsung ke pusat perjalanan utama di seluruh dunia. 

 

Hub Halal Global 

 

 Masyarakat Malaysia sebagian besar ramah Muslim, semua rumah sakit hanya menyajikan menu halal dan menyediakan fasilitas ibadah.
 Ketersediaan produk medis bebas dari bahan hewan babi, seperti benang bedah dan vaksin.
 Banyak profesional dan personel medis, baik pria maupun wanita, adalah muslim. 
 Diakui sebagai “Negara di Peringkat Teratas untuk Wisata Muslim” dari tahun 2011 – 2019 oleh MasterCard-CrescentRating Global Muslim Travel Index. 

 

Kemudahan Berkomunikasi

 

 Bahasa Inggris dan Melayu digunakan secara luas, kebutuhan penerjemah untuk bahasa lain sangat mudah.

 

Layanan dari awal hingga akhir 

 

 Terdapat Call Center khusus serta layanan Concierge & Lounge di KLIA , KLIA2 dan PIA , wisatawan kesehatan yang terdaftar akan disambut di aerobridge segera setelah keluar pesawat. Juga membantu wisatawan kesehatan dari titik awal pengajuan pertanyaan di negeri asal, sampai kedatangan dan perawatan selesai. 

 

Setelah presentasi dan acara foto, kami dijamu makan malam dan bertemu dengan perwakilan dari berbagai rumah sakit yang menjadi partner Malaysia Healtcare, juga mendengarkan kesaksian dari seorang ibu dari Surabaya yang merupakan salah satu pasien rumah sakit di Penang, beliau bercerita bagaiamana pengalaman berobat dan perawatan di Penang sampai akhirnya bisa memiliki buah hati.

 

Selama 4 hari, kami kemudian dibawa mengunjungi beragam fasilitas kesehatan serta bertemu dengan para spesialis terkemuka dari beberapa rumah sakit anggota Malaysia Healthcare yang terdiri dari: Penang Adventist Hospital, Gleneagles Hospital Penang, Loh Guan Lye Ye Specialist Centre dan Island Hospital. Kami dibagi 2 kelompok, yaitu group A dan B, dan kebetulan saya dan teman – teman di group B berkesempatan untuk mengunjungi Penang Adventist Hospital dan Gleneagles Hospital Penang.

Adventist Hospital Penang

Di hari kedua setelah kedatangan kami di Penang, saya yang termasuk di group B berkesempatan untuk mengunjungi Penang Adventist Hospital (PAH) yang merupakan bagian dari jaringan Advent Internasional 696 rumah sakit, klinik dan apotik nirlaba di seluruh dunia. Secara umum, Penang Adventist Hospital (PAH) menawarkan serangkaian layanan dan fasilitas kesehatan berkualitas lengkap, dengan 9 Pusat Keunggulan dan lebih dari 80 spesialis di 25 spesialisasi siap melayani pasien.

Pusat perawatan medis utama di Penang Adventist Hospital meliputi pelayanan jantung untuk semua pasien mulai dari bayi hingga lansia, Pusat Onkologi Adventist, Klinik Pencernaan dan Hati , Klinik Kosmetik dan Rekonstruksi, Pusat perawatan ginjal dan klinik gigi. Namun dari semuanya itu, Penang Adventist Hospital lebih menekankan pada pelayanan jantung. 

 

 

 

Selain memiliki kesempatan untuk mengenal lebih dekat rumah sakit ini lewat presentasi dari Marketing Executive Penang Adventist Hospital , Ibu Flora Triyanti, kami juga berkesempatan untuk bertemu langsung dengan CEO Adventis Penang, yaitu Mr. Ronald Koh, MHA.

Lebih lanjut, Mr. Ronald Koh menjelaskan bahwa success rate dari pasien jantung yang melakukan perawatan di Adventist itu sebesar 90% , ini angka yang tinggi dan pertumbuhan pasien baru juga  berkembang sebesar 5% peningkatannya setiap tahun. Kelebihan lain adalah pengobatan off pump laperopski yang penyembuhannya lebih cepat dari operasi jantung bypass biasa. Selain itu, di Adventist Penang juga terdapat pusat rehabilitasi setelah operasi. Dokter hampir setiap hari ada di rumah sakit dan kapasitas untuk melakukan tindakan operasi juga tinggi, bisa sebanyak 3 kali operasi dalam sehari.

Yang menarik dari Rumah Sakit Adventist ini, mereka memproduksi bakery sendiri dengan bahan – bahan yang berkualitas juga lebih sehat, rendah gula dan rendah lemak. Banyak pengunjung yang datang ke rumah sakit hanya untuk membeli roti sehat di bakery yang terdapat di dalam rumah sakit Adventist Penang ini. Kami juga sempat dijamu makan siang bersama dengan menu vegetarian dari rumah sakit Adventist Penang yang rasanya enak juga sehat.

The TOP KOMTAR

 

Sore harinya, setelah dari rumah sakit, kami bersama pergi ke The Top, KOMTAR, salah satu tempat wisata di Penang yang merupakan gedung tertinggi di Penang. Di dalamnya terdapat berbagai wahana wisata, yang kami kunjungi pertama adalah Penang State Gallery, di tempat ini kita bisa mengenal lebih jauh tentag sejarah dan warisan unik selama lebih dari dua abad, yangmenjadikan George Town Situs Warisan Budaya Dunia UNESCO.  Dari permulaannya yang sederhana sebagai Permukiman Selat Inggris pertama di akhir abad ke-18, George Town mengalami transformasi luar biasa dari perbatasan rawa, ke pos perdagangan yang ramai, ke kota yang sekarang memiliki sejarah hidup, penuh nuansa di setiap sudut.

Wisata selanjutnya, kami naik ke Observatory Deck lantai 65, di ruangan ini kami bisa melihat Penang dari gedung paling tinggi di Penang dan berfoto di atas lantai kaca. Tidak cukup hanya di dalam ruangan, kami juga naik lagi ke lantai 68, di rooftop Komtar, terdapat Rainbow Skywalk, memberikan pengalaman menarik dan cukup menegangkan buat saya untuk berjalan dialam terbuka dengan menjejakkan kaki di atas lantai kaca setinggi 800 kaki di atas permukaan laut, disuguhi pemandangan indah Penang seluas Georgetown dan sekitarnya, sungguh pengalaman yang menakjubkan. Juga di rooftop ini, ada Coco Cabana Bar & Bistro yang menawarkan tapas dan koktail dengan pemandangan yang memukau.

Tidak cukup hanya wisata ke The TOP Komtar saja, tapi di hari kedua ini Malaysia Healthcare memanjakan selera kami dengan menyuguhkan makan malam ala Melayu di Irama Dining Restaurant, dengan menu Nasi kerabu yang lengkap dengan daging sapi santan panggang, ayam panggang, ulam – ulaman yang rasanya unik dan lezat, juga ditutup dengan pencuci mulut seperti bubur sumsum juga kola kala Melayu dengan rasa gurih dari santannya yang kental.

Gleneagles Hospital Penang 

 

Di hari ketiga ini kami masih semangat untuk mengunjungi salah satu rumah sakit swasta di Penang yaitu GleneaglesHospital Penang, yang dibangun dengan visi memberikan layanan kesehatan dengan kualitas terbaik. Akreditasi Gleneagles Penang oleh Joint Commission International (JCI) dan Malaysian Society for Quality in Health (MSQH).


Pusat layanan keunggulan Gleneagles Penang
 yaitu Pusat Perawatan Kanker , Pusat Perawatan Jantung dan Pusat Perawatan Tulang, menawarkan layanan medis kualitas tinggi dan komprehensif untuk pasien mereka. 

 

Sebagai pusat terkemuka untuk pengobatan onkologi kanker di Malaysia, Gleneagles Hospital Penang menggunakan alat pencitraan (imaging) dan peralatan radioterapi modern dan menerapkan standar ketelitian yang tinggi dalam diagnosis medis, prosedur bedah, dan berbagai terapi. Pasien yang terbanyak ditangani adalah penderita kanker payudara, maka itu kami sempat bertemu dan berbicara dengan DR. M Amir Shah , salah satu Consultant Radiotherapist & Oncological di Gleneagles Hospital Penang ini mengenai kanker payudara , penyebabnya dan bagaimana cara pencegahannya.

 

Beliau menjelaskan bahwa 80% dari benjolan di payudara memang bukan termasuk kanker, tapi tidak ada salahnya jika memeriksakan diri sebulan sekali, juga lebih memperhatikan gaya hidup sehat, menghindari makanan dengan pengawet, jangan merokok, juga tidak menyuntik vitamin C dosis tinggi, karena bisa memicu kanker payudara. 

 

Sebagai pusat jantung terkemuka di Malaysia, rumah sakit Gleneagles Penang memiliki salah satu tim spesialis jantung terbesar di wilayah ini. Rumah sakit Gleneagles Penang juga merupakan satu – satunya pusat di Penang yang mengobati pembengkakan aorta menggunakan teknik cangkok stent endovaskuler khusus )Endovascular Stent Grafis Technique) (EVAR), serta melakukan Perutaneous Transvenous Mitral Commissurotomy (PTMC). 

Gleneagles Hospital Penang juga memiliki salah satu tim spesialis ortopedi yang terbesar dan sangat berpengalaman di bidangnya dengan berbagai sub-spesialisasi meliputi kaki dan pergelangan kaki, tangan dan bedah mikro, bedah tulang belakang, pengobatan pada kecederaan olahraga, bedah trauma, bedah ortopedi anak, dan banyak lagi.

Berburu Mural di Penang Street Art 

 

Selepas dari kunjungan ke rumah sakit, para awak media dan blogger akhirnya bisa melepas penat sejenak, berburu foto muraldan menikmati shopping serta jajanan di sekitaran jalan Armenian. 

 

Mural di Georgetown, Penang ini dicetus oleh Dewan Kota di tahun 2012 yang menyewa seorang seniman grafiti dari Lithuania bernama Ernest Zacharevic, setelah itu banyak seniman lain yang mengikuti jejaknya dan menjadikan mural sebagai salah satu wisata foto atraktif di Georgetown , Penang.

Saya sendiri sempat mencicipi homemade soft ice cream durian di sebuah kedai bernama Scoops pas bersebelahan dengan mural yang terkenal ini. Selain memang udaranya yang panas, ice cream nya tidak hanya membuat lebih segar, tapi juga sebagai properti foto. 

 

 

Penang Hill & The Habitat

Perjalanan wisata kami tidak hanya sampai di Armenian street saja, tapi masih berlanjut ke Penang Hill , sebuah resort di bukit yang terdiri dari sekelompok puncak di Pulau Penang, Malaysia.  Terletak di pinggiran Air Itam, 9 km barat dari pusat Georgetown.  Bukit Penang juga dikenal dengan nama Melayu, Bukit Bendera. Penang Hill terdiri dari berbagai bukit, dengan titik tertinggi di bukti bagian barat yaitu 833 m di atas permukaan laut.  Di bukit ini terdapat banyak villa atau tempat peristirahatan selama periode kolonial Inggris, dan sekarang menjadi tujuan wisata populer di Penang.

 

Kami pun berjalan kaki menuju The Habitat Penang Hill yang berada di atas bukit dan dapat diakses melalui Penang Hill Railway dari stasiun pangkalannya di Hill Railway Station Road.  Sampai saat ini, sistem kereta api kabel ini adalah satu-satunya dari jenisnya di Malaysia, yang mengangkut lebih dari satu juta pengunjung.  

 

 

The Habitat Penang Hill mengajak setiap pengunjung untuk terhubung kembali dengan alam dengan men-eksplor hutan berusia 130 juta tahun.  Walaupun awalnya saya ragu ketika diajak untuk menjelajah masuk ke dalam area hutan ini karena saya ‘saltum’, alias salah pakai sepatu, bukannya sepatu olahraga atau keds, ini malah pakai sepatu wedges heels. Tapi karena teman – teman dan staf Malaysia Healthcare dengan antusias meyakinkan saya kalau tidak akan menyesal jika ikut sampai ke atas bukit, ya akhirnya saya pun ikut dengan rombongan.

Pertama – tama Mas Naz,tour guide kelompok kami, membawa kami dalam perjalanan menyusuri hutan dengan segudang flora dan fauna – tanaman, pohon, serangga, burung dan reptil. Kami juga melewati jembatan panjang Langur Way Canopy Walkseluas 230m yang lumayan cukup bergoyang ketika saya berjalan melaluinya.

 

Dan akhirnya dengan mengumpulkan keberanian, saya ikut naik ke puncak tertinggi , yaitu Curtis Crest Tree Top Walk dan menikmati pemandangan 360 derajat Pulau Penang dari titik pandang tertinggi di Penang. Dan itulah akhir dari perjalanan wisata kami di hari ketiga, sebelum kembali ke hotel dan waktu bebas masing – masing. It was an amazing journey indeed, tidak akan pernah lupa akan perjalanan wisata kesehatan ini, thank you Malaysia Healthcare!

Malaysia Healthcare

 

3rd Floor, WTC 3, 

Jalan Jend. Sudirman Kav.,

29 – 31, Karet Surdiman, 

Jakarta Selatan 12920,

Indonesia.

 

Contact Person: Ms. Renata Devita

+62 21 808 694 22/ 23

Mobile: +62 812 897 100 29 

http://www.medicaltourismmalaysia.id

 

 

Adventist Hospital Penang

Perwakilan di Jakarta 

Monnie +62821 2239 9954

kangmonnie@pah.com.my 

 

Perwakilan di Medan 

Vee Vee 

+62812 6320 3339

veeveeleo@pah.com.my

 

Perwakilan di Surabaya 

Fridayani Taurina 

+62812 1070 2653 

 

Gleneagles 

Pusat layanan pasien internasional 

WA : 0812 6023 7903 / +6016-498 9083 

atau +604 – 222 9090/9099

Berkunjung ke Pustakalana : Perpustakaan Anak di Bandung 

Seperti menemukan oasis di tengah padang gurun di siang bolong waktu saya ‘bertemu’ dengan instagram Pustakalana beberapa minggu yang lalu. Bagaimana tidak girangnya hati ini bisa menemukan sebuah perpustakaan anak yang saya lihat dari instagram-nya penuh dengan buku – buku impor yang cukup mahal harganya. Tahun 2013 saja saya beli satu buku board book bekas untuk Mary yang saat itu baru lahir harganya sekitar 4us dollar, dan nilai dollar belum naik seperti sekarang. Makanya sekarang belum kepikiran lagi beli buku impor khusus anak walaupun bekas , apalagi dalam us dollar. 

Dan memang dari dulu saya pecinta perpustakaan, bukan karena rajin belajar sih, alasannya karena di perpustakaan pas semasa kuliah selain bisa pakai internet gratis, juga bisa baca buku novel (inggris) gratis, padahal sebenarnya saya kuliah jurusan sastra Jepang 😀 

Tapi memang dari kecil sudah dibiasakan dibelikan buku – buku lumayan bermutu mungkin ya jadi sampai besar suka baca buku , rasanya kalau ke toko buku pengen dibeli semua kalau bisa walaupun budget ngga cukup. Jadi alternatif lain kalau mau baca buku ya cari ke perpustakaan. Makanya senang sekali bisa menemukan ada perpustakaan khusus anak di Bandung ini, kayanya selama tinggal di Bandung baru tahu ada perpustakaan khusus anak. 

Jadi hari kamis kemarin memaksakan diri buat datang dan buat member untuk Mary.  Awalnya sempat muter – muter jalan taman cibeunying selatan cari rumah nomor 5 yang ternyata di ujung dekat jalan bengawan, setelah tanya-tanya akhirnya ketemu juga Pustakalana. Tempatnya memang tidak terlalu besar dan menyatu dengan Bandung City Creativity Forum (BCCF) , tapi dari depan sudah kelihatan ada tempat mainan outdoor- nya , Mary langsung mau main perosotannya, tapi saya ajak masuk ke dalam dulu.  Setibanya kami di dalam langsung disambut dengan ramah oleh penjaga perpustakaan dan anaknya yang sedang membaca buku. Di dalam perpustakaan kecil itu ternyata nyaman dan bersih, berjejer berbagai buku – buku anak di rak buku yang dipisah sesuai usia anak, dan juga beberapa mainan anak seperti puzzle kayu, miniatur dinosaurus dan lain – lain yang pastinya anak – anak akan senang berlama – lama di sana selain membaca ( dibacakan ) buku. Buktinya Mary asyik mencoba mainan – mainan yang ada sementara saya mendaftar untuk menjadi member. 

Ada 3 pilihan keanggotaan perpustakaan anak Pustakalana, pertama untuk jangka waktu sebulan, saya lupa biayanya, 3 bulan Rp. 115,000 dan satu tahun Rp. 350,000 . Keanggotaannya sudah termasuk kartu member yang bisa diisi ulang sesuai keanggotaan, dan bebas meminjam buku sesuai keanggotaan ( untuk yang 3 bulan maksimal 3 buku sekali pinjam) dan jangka waktu 2 minggu sekali pinjam. Buat saya mengeluarkan uang sejumlah itu dan bisa meminjam buku – buku impor berkualitas rasanya puas sekali, belum lagi ditambah bisa ikut berbagai kegiatan yang diadakan tiap minggunya dengan harga diskon jika menjadi member. 

Jadi kemarin setelah menjadi member , langsung deh saya pinjam 3 buku untuk Mary , biasa kita punya jam khusus untuk membaca , kalau pagi setelah mandi/ siang setelah makan siang (untuk menghindari menonton tv /  youtube) dan waktu malam sebelum tidur. Dan memang dari hamil saya sendiri sudah membiasakan membacakan buku untuk Mary, jadi mungkin karena itu Mary jadi suka membaca juga. Walaupun ketika di perpustakaan Mary tidak terlalu tertarik untuk membaca buku , justru lebih tertarik dengan mainannya, hehe , tapi sewaktu di rumah malam harinya Mary kelihatan senang sekali membaca “Wheel On The Bus” dan “Five Little Monkeys Jumping On The Bed” ya sambil loncat – loncat juga 😀 Semoga bukunya bisa dikembalikan tepat waktu , hihi. 

Pustakalana

Jl. Taman Cibeunying Selatan No.5 

jam buka : (Senin – Sabtu )Pk. 09.30 – 16.00 

Instagram : Pustakalana 

   
    
    
 

Liburan Dadakan ke Bali

Semenjak awal menikah kita berdua (saya dan suami) sudah punya rencana ke Bali untuk honeymoon, tapi ternyata tertunda karena kerjaan suami, jadi tahun lalu malah ke Phuket karena lebih dekat dari Malaysia, tempat tugas suami.  Dan akhirnya baru minggu ini kita bisa ke Bali , untuk honeymoon ke dua (with the baby 😀 ) juga dadakan karena dapat tiket murah banget dari AirAsia. Walaupun cuma tiga hari, tapi bener-bener bikin refreshing, apalagi untuk saya yang memang sedang hamil, memasuki trimester kedua, lepas dari trimester pertama yang cukup berat bagi saya.  It was truly a gift bisa jalan – jalan di tengah – tengah kehamilan, dan memang disarankan di trimester kedua ya bagi ibu hamil.  Yang penting sih sudah konsultasi dokter dan tidak ada gangguang semasa kehamilan yang memberatkan, misalnya detak jantung bayi yang berbeda/bermasalah, diabetes, dan lain – lain.

Image

(walaupun delay hampir setengah jam tetep excited :p )

Karena memang ini trip dadakan, kita cuma prepare 4 hari sebelum keberangkatan untuk pesan hotel dan cari tahu info tentang tempat makan, tempat belanja yang deket hotel dan mau kita datangi.  Maklum untuk kita berdua sudah lama nggak ke Bali, pertama karena pekerjaan kita berdua dulu yang kantoran mungkin, dan sekarang dua-duanya freelance, hehe..jadi kapan juga ya kalau pas nggak ada proyek bisa berangkat deh! Pas lagi promo tiket dan pas semuanya deh 🙂

Untuk hotel kita booking dari tunehotels , kenapa Tune? Karena pengen yang bersih dan ac nya dingin, nggak apa-apa deh nggak ada tv dan memang kecil kamarnya, yang penting bisa istirahat kalau malam, mandi air hangat dan ac dingin, bisa diatur lagi kan mau 24 jam atau 12 jam, kita pilih yang 12 jam jadi dapet harga 450ribu untuk dua malam.  Sengaja juga pilih yang di Legian biar bisa deket ke dua tempat di Seminyak, yaitu Potato Head Beach Club yang ada di Jl. Petitenget dan Naughty Nuri’s di Jl. Batubelig 🙂 hehe

Untuk transportasi awalnya mikirnya gimana ya mau sewa mobil disana, pas temen juga disana sibuk kerja, jadi kita cari sendiri deh lewat internet.  Dan dengan baiknya suami pesen untuk booking mobil saja langsung untuk 2 hari, padahal kalau saya sih sebenernya masih bisa naik motor, lebih gampang lagi kalau mau parkir dan turun di mana gitu buat foto2 dan cuci mata, kan..tapi since saya kepengen juga ke Ubud, ya nggak mungkin juga naik motor secara lagi hamil :p . Setelah search sana sini di internet, akhirnya memutuskan untuk booking lewat VSE Rent Car , dapat mobil Estillo 200ribu /24 jam, dan ini aku recommend banget deh, pelayanannya memuaskan, mulai dari sms awal yang langsung dibalas sama Mbak Indri, konfirmasi dan sesampainya di bandara dengan ramahnya bli Wayan mengantar mobil Estillo kita, bensinnya udah lumayan diisiin banyak jadi kita nggak ribet lagi isinya, ac nya dingin, dan mesin bagus, nggak ada masalah.  Pokoknya next time kita ke Bali, pasti deh pake VSE lagi 🙂

Image

Hari Pertama di Bali

Hari pertama karena sampai sudah malam jadi langsung setelah terima mobil sewaan lalu meluncur ke hotel bermodalkan google maps di tablet yang ampuh banget nunjukkin jalan, padahal sudah takut aja kesasar, suami juga belum pernah nyetir di Bali soalnya :p

Sesampai di hotel juga diterima dengan baik oleh resepsionis dan dapat kamar di lantai tiga yang tidak ramai, jadi bisa istirahat tenang deh.  Ohya kita sempat makan malam di Warung Murah di dekat hotel, pelayanannya juga bagus, ramah semua, termasuk ibu pemiliknya, makanan masih panas padahal sudah jam 10 malam , lumayan enak , prasmanan gitu dan mengenyangkan.  

Hari Kedua di Bali

Hari kedua kita memutuskan untuk ke Ubud pagi – pagi supaya nggak macet,

dan pastinya ke Pasar Seni Sukawati dulu untuk beli oleh – oleh 🙂 . Nggak lupa sebelum berangkat kita cari sarapan di Kuta dan ‘nemu’ sate di pasar kuta, lumayan enak makannya sambil duduk – duduk di depan pantai Kuta , mungkin karena pantainya ya hehe..tapi memang lumayan enak, masih panas dan pedas juga. Image

Image

Cuacanya cerah saat kita mau berangkat ke Ubud, jadi bikin tambah semangat , walaupun dua-duanya belum pernah kesana dan kita nyetir sendiri bermodalkan google maps di tablet :p Image

Jalan by pass Ngurah Rai masih tampak lengang dan dalam 30 menit kita sampai di Sukawati.  Karena masih pagi jadi kita dapat harga penglaris pagi katanya sih, lumayan murah dapet aksesoris , kaos , celana pendek 🙂

Image

Image

(with new necklace :p)

Perjalanan dari Sukawati ke Ubud ternyata tidak terlalu jauh, kira – kira 15 menit kita sudah sampai Ubud,  kita sempat lewat Monkey Forest, tapi suami malas kesana, cuma lihat monyet katanya 😀 hadoohh..

Akhirnya kita parkir di lapangan parkir besar di Jl. Pangosekan lalu cuci mata ke toko – toko yang unik dan banyak galeri lukisan juga, dan makan ice cream gelato brownies yang enakkk banget, seneng deh 🙂

Image

Image

(this cute  KOU store sells homemade jar and herb sea salt buat masak pasta, yummy!)

Image(one of unique gallery in Ubud)

Dan sampailah kita di tengah hari, perut sudah kelaparan, langsung deh kita menuju jalan Suweta tempat Warung Babi Guling Ibu Oka berada, ini nih sebenarnya alasan penting juga kita ke Ubud :p . Sesampainya di Jl. Suweta yang ternyata deket sama tempat parkir kita, ternyata di sana sudah penuh dengan pengunjung yang kebanyakan foreigner ya, jadi kita diarahkan ke rumah Ibu Oka yang tidak jauh juga dari sana.  Tempat makannya di luar kaya gersang gitu panas, tapi pas sudah masuk ke rumah Ibu Oka ini asri banget, dekorasinya kayu, dan kerasa rumahan, menghadap ke pepohonan rindang, wuihh gimana nggak tambah laper :p

Image

(pintu masuk ke Warung Babi Guling Ibu Oka)

Image

(the famous nasi campur dan pisah 🙂 )

Image(suasananya asri )

Setelah kenyang dan menikmati makanan di Warung Ibu Oka yang memang enak banget ini (nggak heran Anthony Bourdain juga sempetin kesini) , kita langsung berencana balik ke Legian dan sempat kesasar juga sih karena jalan balik nggak sama dengan rute perginya, sampai di jalan Sunset Road sudah jam 3 sore, lalu kita putuskan untuk langsung ke Potato Head Beach Club aja biar dapat tempat strategis lihat sunset 🙂

Image(jalan masuk ke Potato Head Beach Club, Petitenget)

Kita sempat kesasar juga nyari – nyari jalan Petitenget dari arah jalan raya seminyak, dan masuk ke gang – gang kecil gitu deh, hehe untung suami nggak bete duluan :p . Sesampainya di sana rasanya lega banget dan masih dapat tempat menghadap pantai , walaupun bukan di depan kolam renangnya langsung sih, karena cukup mahal, mesti minimal bill nya Rp. 500.000 , sedangkan kita cuma berdua aja.  Makanan disini juga rata- rata 100ribu an ke atas, minumnya yang paling murah semacam juice saja 35ribu an, sebenernya pengen coba yang mocktail dan kokura ya kalau nggak salah yang enak disini, tapi karena hamil ya sudahlah ya nggak jadi dulu :p

Image

Image

( almost sunset with the baby 🙂 )

Image

(Pantai Double Six depan Potato Head, kita nggak boleh berenang sih disini)

Sebenernya pengen foto pas sunsetnya, cuma nggak terlalu kelihatan rona jingga nya mungkin karena awan, ya daripada kemalaman dan juga sudah lapar (lagi :p) , kita langsung cabut ke Naughty Nuri’s aja.

Image

( pelataran di tengah – tengah Potato Head sudah diatur buat dinner )

Image

( little store just on the way to the exit door)

Image

Jarak dari Petitenget ke Batubelig juga ternyata nggak ribet, cuma ikutin jalan aja, dan untungnya sampai disana kita masih dapat tempat untuk berdua, padahal sudah penuh , yeaayy! Langsung deh kita pesan Pork Ribs, Potato Wedges dan Nasi Goreng Pak Wayan, semuanya enakkkk :p

Image

(happy faces :D)

Image

(naughty but nice )

Hari Ketiga di Bali

Hari ketiga kita putusin untuk leha – leha aja karena juga sudah lumayan cape, padahal rencananya sih mau jalan ke Pantai Padang Padang , tapi yah nggak kuat juga hehe..jadinya jalan pagi di Pantai Double Six yang memang deket banget sama Tunehotels tempat kita nginap.

Image

(ada pelangi di atasku…)

Image

(nikmatin pantai terakhir kali sebelum pulang )

Lalu siangnya setelah check out sekitar jam 12 an , kami langsung meluncur ke Kuta Beach Walk dan makan siang disana, ada banyak makanan sih cuma kami pilih makan di Burger King saja sambil ngadem dan setelahnya foto – foto pinggir pantai dan cuci mata jalan – jalan di mall sambil menunggu waktu penerbangan pulang ke Bandung.

Sekitar jam 3 an akhirnya kami meluncur ke airport dan serah terima mobil sewaan disana, dan sekitar jam 5an sore pesawat membawa kami kembali ke Bandung, bye holiday..welcome back reality 😀

 

Image

(thank you dear hubby for the wonderful holiday)