Honeymoon Ala Backpacker #3 : Patong Beach

whoahh..sampe lupa deh mau posting trip dadakan ke Patong Beach.  Lanjut dari Phuket Trips 2 ya..

Saya dan suami memang asli belum pernah ke Phuket, dan dengan bekal buku Claudia Kaunang saja dan peta gratis dari mbak2 yang jaga guest hotel, akhirnya kita berangkat ke Patong Beach.  Dari Phuket Town sih sekitar setengah – sejam saja kata si mbak2 itu, ada alternatif transportasi, bisa naik taksi atau thuk thuk (cukup mahal, sekitar 100-150 ribu), atau naik songthaew (bis lokal) yang hanya 25 baht (sekitar Rp. 7500) dari terminal bis antar kota di Ranong Road.  Tentu saja kita berdua memilih naik bis songthaew yang unik, karena bis ini lebih mirip truk mini kali ya..karena pintu masuknya dari belakang dan agak terbuka di samping kiri kanan dengan jendela kayu (ada yg alumunium) yang dua baris itu, makanya disebut songthaew yang artinya  dua baris.  Untuk sampai ke Ranong Road dari pusat kota tempat kita menginap bisa jalan kaki saja sekitar 15-20 menit dengan jalan santai plus foto-foto dong tentunya.   Sesampainya di terminal, kita juga ikutan ‘ngetem’ dan se-bis dengan turis dari Taiwan yang rame banget soalnya remaja-remaja gitu, dan bisa bahasa inggris juga.  Karena saya sempat kepikir kalau misalnya salah naik bis atau kesasar kan jadi bisa ada sesama turis gitu hehe..tapi ternyata orang Thailand sangat ramah ya penduduknya dan membantu banget.  Ohya di Songthaew ini ‘kenek’ nya ibu-ibu muda gitu dan cantik deh, suaminya yang nyetir ;p

Perjalanan yang kita lalui seperti berasa ke Puncak deh, karena jalannya berbukit dan berkelok-kelok, udara juga nggak terlalu panas jadi kami menikmatinya.  Selama di bis saya coba mempelajari rute bis agar jika sampai di Patong bisa turun di shopping mall Jungceylon, namun ternyata kita kelewat, akhirnya kita turun tepat di terminal bis di ujung pantai Patong deh.  Suami sempat agak sebel karena kita kelewat, jadinya kita mesti jalan memutar lagi ke Jungceylon.  Kenapa kita memilih ke Jungceylon dulu, karena nantinya kalau mau pulang harus kembali ke terminal kan, jadi rutenya mending dari mall terus jalan ke pantai dan terminal.  Kita sampai di Patong beach masih lumayan pagi, sekitar jam 11, jadi banyak restaurant dan cafe/coffee shop juga belum buka.  Kita memutuskan untuk jalan kaki saja ke Jungceylon menyusuri bangla road yang banyak penjual cinderamata dan cafe2.  Namun benar seperti kata Claudia Kaunang, harga cinderamata dan makanan/minuman di Patong lebih mahal daripada Phuket Town, hampir dua kali lipat deh.

(salah satu tempat jual jus yang banyak didapati sepanjang bangla road, agak mahal dibanding di phuket town nya)

(Jungceylon, mall terbesar di Patong)

Nggak nyangka juga sih kalau di daerah Pantai Patong ada juga mall yang besar banget dan toko-toko di dalamnya branded punya.  One of my best finds di Jungceylon ini Ice Cream Swensen yang sudah lama banget ga makan, karena di Indonesia juga sudah tutup sih..

Setelah menikmati ice cream, kita sempat foto-foto di dalam mall dan makan siang lalu jalan lagi ke pantai Patong dan duduk-duduk di pinggir pantai sampai sore lalu kembali lagi naik angkutan umum ke kota Phuket, it was fun..! 🙂

Honeymoon Ala Bacpacker : Phuket Trip #2

Posting berikut ini adalah sebagai lanjutan dari Phuket Trip yang pertama.  Di hari pertama, kegiatan kita di Phuket Town adalah walking tour.  Tempat pertama yang kita tuju adalah Phuket Square tempat dijualnya souvenir2, pakaian, dan baju pantai serta pernak-pernik yang lumayan standar Indonesia harganya.  Menurut buku panduan Mbak Claudia Kaunang, mending beli oleh-oleh di kota dibanding di daerah sekitar pantai, karena disana harga akan lebih mahal.

Setelah berkeliling dari Phuket Square, lalu kita menemui Metropole Hotel dan Clock Tower (Jam Gadang) dan sempat berfoto disana, setelah itu kita mencari tempat makan, dan kita menemukan di seberang Clock Tower ada kumpulan restauran, lalu kita memilih mie hokkien.  Karena staff nya pun tidak bisa bahasa inggris, maka ia langsung saja menyajikan apa yang ia miliki tanpa kita bisa memilih :p tapi enak juga sih 🙂

(Hokkien Mie, seafood and pork, sekitar 40 baht)

Kita juga sempat berfoto di Clock Towernya 🙂

Secara keseluruhan kota Phuket itu bersih, udaranya juga tidak terlalu panas, jalanan lengang, jadi termasuk nyaman  untuk berjalan-jalan di sekitar kota tua ini.  Kita juga bisa menemukan spot unik untuk berfoto, seperti tempat ‘mangkal’ thuk thuk modern juga yang kuno :p

Setelah berjalan keliling, kita sempat mampir ke mall robinson, di supermarketnya cukup lengkap, ada durian monthong dan mangga ketan yang terkenal itu.  Kita juga sempat ngintip bioskop nya besar , kaget juga di kota kecil kaya Phuket Town ini ada bioskop gede n keren.  Banyak film Thailand juga yang sekarang lagi maju dan berkembang.

Habis cape jalan-jalan seharian sampai sore, akhirnya kita pulang deh ke guest hotel, dan makan malam di samping hotel yag kedainya rame banget banyak bule and turis sampe ngantri deh mau beli.  Aku pesen fried seafood with basil leaves, kalau suami phadthai noodle, enakk dehh :p pantes ngantri..harganya juga ga mahal, seporsi 12 ribu an aja..

Habis makan langsung enak tidur deh ditambah cape seharian jalan, well nanti dilanjut lagi tulisan ‘backpack’ ke Patong Beach ya..to be continued 🙂

Honeymoon Ala Backpacker : Phuket Trip #1

 

Akhirnya saya dan suami jadi juga berangkat ke Phuket yang sebelumnya sempat kami duga bakal di cancel.  Karena tiket yang kami beli dari awal tahun itu berangkat dari KL, sedangkan sudah dari dua bulan lalu kami menunggu untuk ke KL dalam tugas kerja suami, namun belum ditugaskan. Makanya pas banget tanggal 2 Oktober kemarin kami akhirnya berangkat dari Medan ke KL juga.

Sebenarnya perjalanan ini sudah saya rancang dari awal tahun dengan mengikuti panduan perjalanan dari buku Mbak Claudia Kaunang.  Namun karena sempat terpikir bakal di cancel, jadi sampai dua hari sebelumnya kami belum booking hotel.  Tapi thank God sehari sebelumnya setelah browsing booking.com dan agoda.com dan kehabisan kamar, akhirnya saya menghubungi contact di website Lub Sbuy Guest Hostel Phuket dan dibalas dengan aktif oleh staff-nya , sekaligus dapat discount 50 persen untuk dua malam dengan harga Rp. 300.000 atau 1000 Baht (kurs 1 Baht = 300 rupiah) saja, woohhoo..!

Akhirnya dengan packing yang mendadak itu kami berangkat juga ke Phuket dengan tiket airasia yang cukup murah.  Kami berangkat dari apartmen subuh karena mengejar flight jam 7.25 waktu KL dan mendarat di Phuket jam 7.45 waktu Phuket (Bangkok, sama dengan Jakarta).  Karena kami menginap di Phuket Town, maka kami memilih naik angkutan airport bus yang akan menuju terminal bis yang tidak jauh dari tempat kami menginap.

Sesampainya di Bandara Internasional Phuket, kami pun disambut dengan hujan dan kami beristirahat di tempat menunggu airport bus yang ekonomis.  Tempat pemberhentian airport bus terletak di lantai 1 dan lantai 2 bandara internasional Phuket, dan saat itu sangat sepi, hanya kami berdua dan ada dua turis dari Shanghai yang juga telah menunggu bis semenjak pagi.  Jadwal airport bus sudah tertera lengkap di dinding dekat tempat pemberhentian, dan setelah hampir sejam kami menunggu akhirnya bis yang ditunggu datang juga.

(dapat sim card gratis :p)

(tempat menunggu airport bus)

Kami disambut dengan ramah oleh kondektur bus dan juga supirnya, karena kami hanya ber-empat saja di dalam bis, maka sangat lega dan nyaman duduk di dalam bis yang ber-ac dingin itu, plus harganya pun murah, hanya 85 Baht, bilsa dibandingkan dengan harga taksi yang 500 Baht.

Phuket yang diguyur hujan di pagi hari membuat saya dan suami mengantuk di bis, sampai akhirnya tersadar kami sudah sampai di jalan besar melewati jalan ke arah pantai-pantai di Phuket.  Lalu kami juga melewati Central Festival Market, Shopping Mall besar di Phuket.  Setelah menempuh perjalanan selama 1 jam dari bandara ke Phuket Town, akhirnya kami pun diturunkan di samping Guest Hostel dan disambut ramah dengan staff yang membalas email saya, kami pun boleh check in lebih awal dari waktu biasanya.

Lub Sbuy Guest Hostel terletak di pusat kota Phuket Town di jalan Phang Nga.  Hotel ini termasuk baru dan kami sangat puas dengan pelayanan dan fasilitas kamar yang lengkap, hanya minus pemanas air.  Namun itu juga tidak menjadi masalah karena kami bisa pesan kopi di bawah atau ke seven eleven yang hanya beberapa rumah dari hotel Lub Sbuy.

Karena Oktober masih low season jadi di Phuket Town sendiri tidak terlalu banyak turis, dan harga makanan dan barang masih relatif standar.  Harga nasi dan lauk pauk yang dijual di pinggir jalan sebelah hotel sekitar 25 Baht , dada ayam panggang 10 Baht dan nasi ketan 5 Baht,  ada pisang goreng juga dijual sekitar Rp. 500 , 10 Baht 6 buah.

Sebenarnya kami berencana untuk langsung wallking tour Phuket Town, namun karena hujan jadi kami beristirahat dulu.  Ok, next catatan perjalanannya akan saya lanjutkan di Phuket Trip #2.  To be continued..