Liburan Dadakan ke Bali

Semenjak awal menikah kita berdua (saya dan suami) sudah punya rencana ke Bali untuk honeymoon, tapi ternyata tertunda karena kerjaan suami, jadi tahun lalu malah ke Phuket karena lebih dekat dari Malaysia, tempat tugas suami. ¬†Dan akhirnya baru minggu ini kita bisa ke Bali , untuk honeymoon ke dua (with the baby ūüėÄ ) juga dadakan karena dapat tiket murah banget dari¬†AirAsia. Walaupun cuma tiga hari, tapi bener-bener bikin refreshing, apalagi untuk saya yang memang sedang¬†hamil, memasuki¬†trimester kedua, lepas dari trimester pertama yang cukup berat bagi saya. ¬†It was truly a gift bisa jalan – jalan di tengah – tengah kehamilan, dan memang disarankan di¬†trimester kedua¬†ya bagi¬†ibu hamil. ¬†Yang penting sih sudah konsultasi dokter dan tidak ada gangguang semasa kehamilan yang memberatkan, misalnya detak jantung bayi yang berbeda/bermasalah, diabetes, dan lain – lain.

Image

(walaupun delay hampir setengah jam tetep excited :p )

Karena memang ini trip dadakan, kita cuma prepare 4 hari sebelum keberangkatan untuk pesan hotel dan cari tahu info tentang tempat makan, tempat belanja yang deket hotel dan mau kita datangi. ¬†Maklum untuk kita berdua sudah lama nggak ke Bali, pertama karena pekerjaan kita berdua dulu yang kantoran mungkin, dan sekarang dua-duanya freelance, hehe..jadi kapan juga ya kalau pas nggak ada proyek bisa berangkat deh! Pas lagi promo tiket dan pas semuanya deh ūüôā

Untuk hotel kita booking dari¬†tunehotels¬†, kenapa Tune? Karena pengen yang bersih dan ac nya dingin, nggak apa-apa deh nggak ada tv dan memang kecil kamarnya, yang penting bisa istirahat kalau malam, mandi air hangat dan ac dingin, bisa diatur lagi kan mau 24 jam atau 12 jam, kita pilih yang 12 jam jadi dapet harga 450ribu untuk dua malam. ¬†Sengaja juga pilih yang di Legian biar bisa deket ke dua tempat di Seminyak, yaitu¬†Potato Head Beach Club¬†yang ada di Jl. Petitenget dan¬†Naughty Nuri’s¬†di Jl. Batubelig ūüôā hehe

Untuk transportasi awalnya mikirnya gimana ya mau sewa mobil disana, pas temen juga disana sibuk kerja, jadi kita cari sendiri deh lewat internet. ¬†Dan dengan baiknya suami pesen untuk booking mobil saja langsung untuk 2 hari, padahal kalau saya sih sebenernya masih bisa naik motor, lebih gampang lagi kalau mau parkir dan turun di mana gitu buat foto2 dan cuci mata, kan..tapi since saya kepengen juga ke Ubud, ya nggak mungkin juga naik motor secara lagi hamil :p . Setelah search sana sini di internet, akhirnya memutuskan untuk booking lewat¬†VSE Rent Car¬†, dapat mobil Estillo 200ribu /24 jam, dan ini aku recommend banget deh, pelayanannya memuaskan, mulai dari sms awal yang langsung dibalas sama Mbak Indri, konfirmasi dan sesampainya di bandara dengan ramahnya bli Wayan mengantar mobil Estillo kita, bensinnya udah lumayan diisiin banyak jadi kita nggak ribet lagi isinya, ac nya dingin, dan mesin bagus, nggak ada masalah. ¬†Pokoknya next time kita ke Bali, pasti deh pake VSE lagi ūüôā

Image

Hari Pertama di Bali

Hari pertama karena sampai sudah malam jadi langsung setelah terima mobil sewaan lalu meluncur ke hotel bermodalkan google maps di tablet yang ampuh banget nunjukkin jalan, padahal sudah takut aja kesasar, suami juga belum pernah nyetir di Bali soalnya :p

Sesampai di hotel juga diterima dengan baik oleh resepsionis dan dapat kamar di lantai tiga yang tidak ramai, jadi bisa istirahat tenang deh.  Ohya kita sempat makan malam di Warung Murah di dekat hotel, pelayanannya juga bagus, ramah semua, termasuk ibu pemiliknya, makanan masih panas padahal sudah jam 10 malam , lumayan enak , prasmanan gitu dan mengenyangkan.  

Hari Kedua di Bali

Hari kedua kita memutuskan untuk ke Ubud pagi – pagi supaya nggak macet,

dan pastinya ke Pasar Seni Sukawati dulu untuk beli oleh – oleh ūüôā . Nggak lupa sebelum berangkat kita¬†cari sarapan di Kuta dan ‘nemu’ sate di pasar kuta, lumayan enak makannya sambil duduk – duduk di depan pantai Kuta , mungkin karena pantainya ya hehe..tapi memang lumayan enak, masih panas dan pedas juga.¬†Image

Image

Cuacanya cerah saat kita mau berangkat ke Ubud, jadi bikin tambah semangat , walaupun dua-duanya belum pernah kesana dan kita nyetir sendiri bermodalkan google maps di tablet :p Image

Jalan by pass Ngurah Rai masih tampak lengang dan dalam 30 menit kita sampai di Sukawati. ¬†Karena masih pagi jadi kita dapat harga penglaris pagi katanya sih, lumayan murah dapet aksesoris , kaos , celana pendek ūüôā

Image

Image

(with new necklace :p)

Perjalanan dari Sukawati ke Ubud ternyata tidak terlalu jauh, kira – kira 15 menit kita sudah sampai Ubud, ¬†kita sempat lewat Monkey Forest, tapi suami malas kesana, cuma lihat monyet katanya ūüėÄ hadoohh..

Akhirnya kita parkir di lapangan parkir besar di Jl. Pangosekan lalu cuci mata ke toko – toko yang unik dan banyak galeri lukisan juga, dan makan ice cream gelato brownies yang enakkk banget, seneng deh ūüôā

Image

Image

(this cute  KOU store sells homemade jar and herb sea salt buat masak pasta, yummy!)

Image(one of unique gallery in Ubud)

Dan sampailah kita di tengah hari, perut sudah kelaparan, langsung deh kita menuju jalan Suweta tempat Warung Babi Guling Ibu Oka berada, ini nih sebenarnya alasan penting juga kita ke Ubud :p . Sesampainya di Jl. Suweta yang ternyata deket sama tempat parkir kita, ternyata di sana sudah penuh dengan pengunjung yang kebanyakan foreigner ya, jadi kita diarahkan ke rumah Ibu Oka yang tidak jauh juga dari sana.  Tempat makannya di luar kaya gersang gitu panas, tapi pas sudah masuk ke rumah Ibu Oka ini asri banget, dekorasinya kayu, dan kerasa rumahan, menghadap ke pepohonan rindang, wuihh gimana nggak tambah laper :p

Image

(pintu masuk ke Warung Babi Guling Ibu Oka)

Image

(the famous nasi campur dan pisah ūüôā )

Image(suasananya asri )

Setelah kenyang dan menikmati makanan di Warung Ibu Oka yang memang enak banget ini (nggak heran Anthony Bourdain juga sempetin kesini) , kita langsung berencana balik ke Legian dan sempat kesasar juga sih karena jalan balik nggak sama dengan rute perginya, sampai di jalan Sunset Road sudah jam 3 sore, lalu kita putuskan untuk langsung ke¬†Potato Head Beach Club¬†aja biar dapat tempat strategis lihat sunset ūüôā

Image(jalan masuk ke Potato Head Beach Club, Petitenget)

Kita sempat kesasar juga nyari Рnyari jalan Petitenget dari arah jalan raya seminyak, dan masuk ke gang Рgang kecil gitu deh, hehe untung suami nggak bete duluan :p . Sesampainya di sana rasanya lega banget dan masih dapat tempat menghadap pantai , walaupun bukan di depan kolam renangnya langsung sih, karena cukup mahal, mesti minimal bill nya Rp. 500.000 , sedangkan kita cuma berdua aja.  Makanan disini juga rata- rata 100ribu an ke atas, minumnya yang paling murah semacam juice saja 35ribu an, sebenernya pengen coba yang mocktail dan kokura ya kalau nggak salah yang enak disini, tapi karena hamil ya sudahlah ya nggak jadi dulu :p

Image

Image

( almost sunset with the baby ūüôā )

Image

(Pantai Double Six depan Potato Head, kita nggak boleh berenang sih disini)

Sebenernya pengen foto pas sunsetnya, cuma nggak terlalu kelihatan rona jingga nya mungkin karena awan, ya daripada kemalaman dan juga sudah lapar (lagi :p) , kita langsung cabut ke Naughty Nuri’s aja.

Image

( pelataran di tengah – tengah Potato Head sudah diatur buat dinner )

Image

( little store just on the way to the exit door)

Image

Jarak dari Petitenget ke Batubelig juga ternyata nggak ribet, cuma ikutin jalan aja, dan untungnya sampai disana kita masih dapat tempat untuk berdua, padahal sudah penuh , yeaayy! Langsung deh kita pesan Pork Ribs, Potato Wedges dan Nasi Goreng Pak Wayan, semuanya enakkkk :p

Image

(happy faces :D)

Image

(naughty but nice )

Hari Ketiga di Bali

Hari ketiga kita putusin untuk leha – leha aja karena juga sudah lumayan cape, padahal rencananya sih mau jalan ke Pantai Padang Padang , tapi yah nggak kuat juga hehe..jadinya jalan pagi di Pantai Double Six yang memang deket banget sama Tunehotels tempat kita nginap.

Image

(ada pelangi di atasku…)

Image

(nikmatin pantai terakhir kali sebelum pulang )

Lalu siangnya setelah check out sekitar jam 12 an , kami langsung meluncur ke Kuta Beach Walk dan makan siang disana, ada banyak makanan sih cuma kami pilih makan di Burger King saja sambil ngadem dan setelahnya foto – foto pinggir pantai dan cuci mata jalan – jalan di mall sambil menunggu waktu penerbangan pulang ke Bandung.

Sekitar jam 3 an akhirnya kami meluncur ke airport dan serah terima mobil sewaan disana, dan sekitar jam 5an sore pesawat membawa kami kembali ke Bandung, bye holiday..welcome back reality ūüėÄ

 

Image

(thank you dear hubby for the wonderful holiday)

Honeymoon Ala Backpacker #3 : Patong Beach

whoahh..sampe lupa deh mau posting trip dadakan ke Patong Beach.  Lanjut dari Phuket Trips 2 ya..

Saya dan suami memang asli belum pernah ke Phuket, dan dengan bekal buku Claudia Kaunang saja dan peta gratis dari mbak2 yang jaga guest hotel, akhirnya kita berangkat ke Patong Beach. ¬†Dari Phuket Town sih sekitar setengah – sejam saja kata si mbak2 itu, ada alternatif transportasi, bisa naik taksi atau thuk thuk (cukup mahal, sekitar 100-150 ribu), atau naik songthaew (bis lokal) yang hanya 25 baht (sekitar Rp. 7500) dari terminal bis antar kota di Ranong Road. ¬†Tentu saja kita berdua memilih naik bis songthaew yang unik, karena bis ini lebih mirip truk mini kali ya..karena pintu masuknya dari belakang dan agak terbuka di samping kiri kanan dengan jendela kayu (ada yg alumunium) yang dua baris itu, makanya disebut songthaew yang artinya ¬†dua baris. ¬†Untuk sampai ke Ranong Road dari pusat kota tempat kita menginap bisa jalan kaki saja sekitar 15-20 menit dengan jalan santai plus foto-foto dong tentunya. ¬† Sesampainya di terminal, kita juga ikutan ‘ngetem’ dan se-bis dengan turis dari Taiwan yang rame banget soalnya remaja-remaja gitu, dan bisa bahasa inggris juga. ¬†Karena saya sempat kepikir kalau misalnya salah naik bis atau kesasar kan jadi bisa ada sesama turis gitu hehe..tapi ternyata orang Thailand sangat ramah ya penduduknya dan membantu banget. ¬†Ohya di Songthaew ini ‘kenek’ nya ibu-ibu muda gitu dan cantik deh, suaminya yang nyetir ;p

Perjalanan yang kita lalui seperti berasa ke Puncak deh, karena jalannya berbukit dan berkelok-kelok, udara juga nggak terlalu panas jadi kami menikmatinya.  Selama di bis saya coba mempelajari rute bis agar jika sampai di Patong bisa turun di shopping mall Jungceylon, namun ternyata kita kelewat, akhirnya kita turun tepat di terminal bis di ujung pantai Patong deh.  Suami sempat agak sebel karena kita kelewat, jadinya kita mesti jalan memutar lagi ke Jungceylon.  Kenapa kita memilih ke Jungceylon dulu, karena nantinya kalau mau pulang harus kembali ke terminal kan, jadi rutenya mending dari mall terus jalan ke pantai dan terminal.  Kita sampai di Patong beach masih lumayan pagi, sekitar jam 11, jadi banyak restaurant dan cafe/coffee shop juga belum buka.  Kita memutuskan untuk jalan kaki saja ke Jungceylon menyusuri bangla road yang banyak penjual cinderamata dan cafe2.  Namun benar seperti kata Claudia Kaunang, harga cinderamata dan makanan/minuman di Patong lebih mahal daripada Phuket Town, hampir dua kali lipat deh.

(salah satu tempat jual jus yang banyak didapati sepanjang bangla road, agak mahal dibanding di phuket town nya)

(Jungceylon, mall terbesar di Patong)

Nggak nyangka juga sih kalau di daerah Pantai Patong ada juga mall yang besar banget dan toko-toko di dalamnya branded punya.  One of my best finds di Jungceylon ini Ice Cream Swensen yang sudah lama banget ga makan, karena di Indonesia juga sudah tutup sih..

Setelah menikmati ice cream, kita sempat foto-foto di dalam mall dan makan siang lalu jalan lagi ke pantai Patong dan duduk-duduk di pinggir pantai sampai sore lalu kembali lagi naik angkutan umum ke kota Phuket, it was fun..! ūüôā

Honeymoon Ala Backpacker : Phuket Trip #1

 

Akhirnya saya dan suami jadi juga berangkat ke Phuket yang sebelumnya sempat kami duga bakal di cancel.  Karena tiket yang kami beli dari awal tahun itu berangkat dari KL, sedangkan sudah dari dua bulan lalu kami menunggu untuk ke KL dalam tugas kerja suami, namun belum ditugaskan. Makanya pas banget tanggal 2 Oktober kemarin kami akhirnya berangkat dari Medan ke KL juga.

Sebenarnya perjalanan ini sudah saya rancang dari awal tahun dengan mengikuti panduan perjalanan dari buku Mbak Claudia Kaunang.  Namun karena sempat terpikir bakal di cancel, jadi sampai dua hari sebelumnya kami belum booking hotel.  Tapi thank God sehari sebelumnya setelah browsing booking.com dan agoda.com dan kehabisan kamar, akhirnya saya menghubungi contact di website Lub Sbuy Guest Hostel Phuket dan dibalas dengan aktif oleh staff-nya , sekaligus dapat discount 50 persen untuk dua malam dengan harga Rp. 300.000 atau 1000 Baht (kurs 1 Baht = 300 rupiah) saja, woohhoo..!

Akhirnya dengan packing yang mendadak itu kami berangkat juga ke Phuket dengan tiket airasia yang cukup murah.  Kami berangkat dari apartmen subuh karena mengejar flight jam 7.25 waktu KL dan mendarat di Phuket jam 7.45 waktu Phuket (Bangkok, sama dengan Jakarta).  Karena kami menginap di Phuket Town, maka kami memilih naik angkutan airport bus yang akan menuju terminal bis yang tidak jauh dari tempat kami menginap.

Sesampainya di Bandara Internasional Phuket, kami pun disambut dengan hujan dan kami beristirahat di tempat menunggu airport bus yang ekonomis.  Tempat pemberhentian airport bus terletak di lantai 1 dan lantai 2 bandara internasional Phuket, dan saat itu sangat sepi, hanya kami berdua dan ada dua turis dari Shanghai yang juga telah menunggu bis semenjak pagi.  Jadwal airport bus sudah tertera lengkap di dinding dekat tempat pemberhentian, dan setelah hampir sejam kami menunggu akhirnya bis yang ditunggu datang juga.

(dapat sim card gratis :p)

(tempat menunggu airport bus)

Kami disambut dengan ramah oleh kondektur bus dan juga supirnya, karena kami hanya ber-empat saja di dalam bis, maka sangat lega dan nyaman duduk di dalam bis yang ber-ac dingin itu, plus harganya pun murah, hanya 85 Baht, bilsa dibandingkan dengan harga taksi yang 500 Baht.

Phuket yang diguyur hujan di pagi hari membuat saya dan suami mengantuk di bis, sampai akhirnya tersadar kami sudah sampai di jalan besar melewati jalan ke arah pantai-pantai di Phuket.  Lalu kami juga melewati Central Festival Market, Shopping Mall besar di Phuket.  Setelah menempuh perjalanan selama 1 jam dari bandara ke Phuket Town, akhirnya kami pun diturunkan di samping Guest Hostel dan disambut ramah dengan staff yang membalas email saya, kami pun boleh check in lebih awal dari waktu biasanya.

Lub Sbuy Guest Hostel terletak di pusat kota Phuket Town di jalan Phang Nga.  Hotel ini termasuk baru dan kami sangat puas dengan pelayanan dan fasilitas kamar yang lengkap, hanya minus pemanas air.  Namun itu juga tidak menjadi masalah karena kami bisa pesan kopi di bawah atau ke seven eleven yang hanya beberapa rumah dari hotel Lub Sbuy.

Karena Oktober masih low season jadi di Phuket Town sendiri tidak terlalu banyak turis, dan harga makanan dan barang masih relatif standar.  Harga nasi dan lauk pauk yang dijual di pinggir jalan sebelah hotel sekitar 25 Baht , dada ayam panggang 10 Baht dan nasi ketan 5 Baht,  ada pisang goreng juga dijual sekitar Rp. 500 , 10 Baht 6 buah.

Sebenarnya kami berencana untuk langsung wallking tour Phuket Town, namun karena hujan jadi kami beristirahat dulu.  Ok, next catatan perjalanannya akan saya lanjutkan di Phuket Trip #2.  To be continued..