Tips Menulis Flash Fiction

Sebelum berlanjut kepada tips, tentunya saya ingin membahas tentang apakah itu flash fiction? Banyak sumber yang mengatakan definisi yang berbeda – beda mengenai flash fiction.  Namun saya ambil garis tengahnya saja yaitu sebuah karya fiksi yang sangat pendek, berkisar antara 300 sampai 1000 kata.  Ada pendapat seorang penulis kumpulan flash fiction yang sudah mempelajari dan menulis flash fiction dari tahun 2006, penggagas website 365tommorrow.com yang menurut saya sangat menarik.  Steve Smith mengatakan bahwa ia senang mendefinisikan flash fiction dari cara membuatnya.  Pertama ia justru akan membuat ide cerita lalu mengembangkannya menjadi cerita pendek terlebih dahulu.  Setelah itu baru memangkas bagian – bagian yang ia rasa tidak perlu, sehingga merampingkan cerita menjadi isi ceritanya saja, dan akhirnya menjadi sebuah flash fiction.

Sedangkan menurut rekan Steve, Katie Kachelries, founder dari website 365tommorrow.com , ia mengatakan bahwa flash fiction bak seekor binatang yang mempertontonkan giginya, dan cakarnya yang panjang, dengan tubuh yang ramping, otot yang kuat, tanpa lemak berlebih.  Dan binatang itu akan memukul anda di paragraf pertama.  Jika binatang itu tidak mengeluarkan cakarnya sedikit demi sedkit di paragraf pertama atau kedua, maka ia telah gagal.  Tidak ada margin tersisa untuk eror.  Setiap kata harus bermakna, jika tidak, maka kata tersebut harus dihapus. 

Seberapa panjangkah sebuah Flash Fiction?  Sebenarnya tidak ada peraturan yang pasti, namun perlu diperhatikan inti dari sebuah flash fiction haruslah lebih pendek dari cerita pendek, dan ada poin mengejutkan/sudden/twist yang tidak disangka oleh pembaca di akhir cerita dan kita harus membuat pembaca penasaran sampai akhir cerita.

Bahkan Steve memberikan contoh sebuah flash fiction yang sangat pendek atau mungkin bisa disebut paling pendek yang setidaknya pernah saya baca, yaitu flash fiction dari Ernest Hemingway Penned yang hanya terdiri dari enam kata termasuk judulnya, “For sale: baby shoes, never worn.” (Dijual: sepatu bayi, belum pernah dipakai).  Menurut kisahnya, penulis cerita pendek yang terkenal di abad 20 , Ernest Hemingway ditantang untuk menulis cerita pendek dalam 6 kata, dan ia berhasil memenangkan taruhan.   Membaca tagline iklan yang dibuat dalam cerita 6 kata ini, pembaca dibawa untuk merasakan kepedihan kedua orang tua yang kehilangan anaknya karena keguguran.

Lalu bagaimana cara memulai menulis sebuah flash fiction? Berikut ini saya ambil dari website fictionfactor asuhan Geroge Thomas, yang menurut saya paling praktis.

1) Mulailah dengan ide yang kecil.  Peraslah ide yang besar menjadi ide yang lebih kecil dan paling kecil.  Sebagai contoh untuk menceritakan hubungan antara orang tua dan anak yang sulit secara panjang kita butuh sebuah novel.  Namun di flash fiction kita bisa mulai dengan ide yang kecil, bagaimana perasaan anak – anak ketika mereka tidak boleh diikutkan saat perbincangan sesama orang dewasa.  Atau laporan rapor yang jelek, dll.

2) Kubur deskripsi yang bertele – tele

Ketika kita mulai menulis cerita, jangan sampai menulis deksripsi cerita sampai dua halaman.  Namun kita harus bisa mengkompresnya sampai satu paragraf pertama saja.

3) Mulai cerita di tengah kejadian

Mulailah cerita di tengah – tengah kejadian.  Misal: sebuah bom meledak, sebuah kecelakaan terjadi, seekor monster ada di rumah, jangan mendeskripsikan lebih dari itu, atau sebelum dari kejadian.

4) Fokus pada satu gambar

Fokuslah pada satu gambaran cerita, jalan menuju medan perang, sebuah sunset, orang bilang sebuah gambar melukiskan sebuah cerita.

5) Buat pembaca menebak – nebak sampai akhir cerita

Sebuah misteri yang berjalan dengan waktu.  Pembaca tidak harus mengerti seluruh inti cerita di awal cerita, justru kita harus membawa mereka penasaran sampai akhir cerita yang akan membuat mereka ‘puas’.

6) Gunakan referesni pengutaraan tidak langsung

Jika kita mengisahkan sesuatu secara terang – terangan maka tidak akan membuat penasaran.  Gunakan pengisahan yang memakai simbol dan tidak secara langsung.

7) Gunakan Twist

Twist adalah sesuatu yang berbeda, mengejutkan, dan membalikkan cerita di akhir cerita.  Harus ada sesuatu yang mengejutkan pembaca, seperti sebuah lelucon yang baik, alur flash fiction dibangun sampai membuat kejutan di akhir.

Flash fiction disebut juga sudden fiction, mini fiction, atau kalau di Indonesia ada fiksi mini, cerita mini, dan lain sebagainya. Anda bisa mencarinya di twitter, ada kumpulan fiksi mini dan cerita mini di sana.

 

Home #FFBerantai Trattoria

20120410-170019.jpg

Posisiku masih seperti 15 menit lalu, Kedua tangan memangku dagu dengan kepalan, persis seperti sebuah lukisan di depan mejaku. Sementara mataku  sesekali melihat layar blackberry yang tergeletak di meja dekat segelas wine, menunggu kabar dari dia yang sedari tadi kunanti kedatangannya. Hmm, tumben dia telat kali ini, tapi tak masalah buatku. Menunggu di Trattoria selalu menyenangkan, mungkin karena masakan Itali memang favoritku, aku masih bisa memilih yang vegetarian dan rendah lemak, dan ku seimbangkan dengan fitness juga tentunya. Dan pastinya karena Roberto, pemilik restauran ini selalu banyak cerita, tak bosan rasanya mendengar ceritanya tentang desa tempat asalnya, selalu menarik.

Sudah tiga kali kita bertemu di tempat ini, dan semenjak aku mengenal restauran ini, juga dirinya, aku seperti menemukan diriku sendiri yang telah lama hilang. Tak bisa kupungkiri setiap kali berjumpa dengannya, dadaku kembali berdetak tak karuan. Apalagi melihat mata bulatnya, tiap kali menatap langsung ke mataku, entah apa ia menangkap sesuatu yang lain entah tidak.

Seberapapun aku berjanji untuk tidak salah tingkah di depannya, namun sesering itu pun aku berbuat hal yang bodoh. Seperti sekarang ini, aku memakai sepasang sepatu yang berbeda, ah sial, semoga ia tidak melihatnya.  Entah bagaimana lelaki mapan hampir separuh baya sepertiku bisa gelagapan dibuatnya. Kalau bukan karena persoalan bisnis ini, aku tidak mungkin bertemu dengannya. Ia adalah seorang wanita muda yang smart, seorang script writer handal dari sebuah perusahaan advertising yang kini bekerja sebagai freelance. Dan sangat kebetulan sekali aku dikenalkan oleh teman dari seorang teman, karena perusahaanku perlu seseorang untuk menulis company profile yang unik dan khas.

Sekalipun kami baru berkenalan, tapi aku sudah sangat hafal bau parfumnya, Happy Clinique, manis dan lembut, klasik, juga ceria, sama seperti kepribadiannya. Aku juga hafal lekuk senyumnya, setiap kali ia menertawakan ideku yang konyol baginya, ia mudah tertawa.   Juga mata bulatnya dibalik kacamata gaulnya, aku suka caranya melirik ketika sedang memikirkan sesuatu, seberapapun aku ingin melihat bagian tubuh lainnya yang bagiku mempesona, namun aku selalu ingin kembali ke matanya, mata yang menuntun jalanku, seperti pulang ke rumah.

Katanya hidup itu pada akhirnya hanya untuk dua hal, pulang dengan nyaman ke sebuah rumah, dan bisa tidur nyenyak. Jujur, dua hal itu merupakan luxury bagiku, sesuatu yang mahal harganya, lebih mahal dibanding apartmen cukup mewah milikku di daerah Thamrin, dan tempat tidurku yang sangat empuk yang bernilai jutaan harganya. Pikiranku kembali melantunkan sebuah lagu dari Michael Bubble,

I wanna go home
Let me go home

Suara dering dari smartphone ku membuyarkan anganku tentangnya, kubaca satu pesan,

Yang, aku nggak bisa pulang cepet lagi nih malam ini, ada meeting lagi, nanti order makanan aja ya, jangan lupa dolly dikasi makan ya, see u.

Sudah kuduga, seperti malam – malam sebelumnya.

“Halo, Pak..sudah lama menunggu ya? Sori aku telat sedikit, lumayan macet.”

Ah suara lembut itu, berdiri di hadapanku kini, seperti membawaku kembali dari ketersesatanku, mungkinkah aku bisa membangun rumah dengannya? Ah aku sudah berpikir terlalu jauh. Aku hanya ingin pertemuan – pertemuan dengannya menjadi rumah untukku. Ya Tuhan, bolehkah aku meminta permohonan itu, untuk pulang ke hatinya?

The Coffee Shop Chronicles Book Trailer

The Coffee Shop Chronicles. Antologi flash fiction (cerita singkat) dari 21 penulis yang berlatar di sebuah kedai kopi di kawasan Malioboro, Yogyakarta. Setiap penulis membuat sebuah flash fiction yang berkaitan dari sudut pandang masing-masing.

The Coffee Shop Chronicles seharga Rp. 35.000. Info pemesanan: hhttp://wp.me/p1T3e3-2U dan dapat pula dipesan melalui nulisbuku.com atau menghubungi kami di twitter @adit_adit / @WangiMS. Seluruh royalti dari penjualan buku ini akan disumbangkan ke adik-adik asuh di Surabaya.