Belajar Lettering : Seni Menulis Huruf 

 Sudah hampir sebulan lebih saya belum update postingan baru, selain karena kesibukan mengurus anak yang lagi aktif – aktifnya dan juga sedang kembali belajar ‘lettering’ , sebuah hobi yang hampir 2 tahun ini saya tinggalkan.

Kegemaran lettering ini sebenarnya sudah dari 2 tahun lalu saya geluti. Tapi pada dasarnya dari kecil saya suka doodling, kaya corat coret meniru tulisan – tulisan yang saya contoh dari mana saja, dari penggaris yang saya punya, dari disain buku diary saya, pokoknya dari mana saja. Dan buku ‘doodling’ saya dari SD itu masih saya simpan sampai sekarang, buat kenang – kenangan. 

Dua tahun lalu, bermula dari sebuah hashtag di instagram dan akhirnya saya ketemu dengan komunitas tulis menulis di instagram yang berhasil membuat saya ‘baper’ pengen juga ikut – ikutan tulis menulis. Awalnya justru saya belajar kaligrafi modern, dengan menggunakan pointed pen dan tinta sebelum akhirnya belajar menulis atau lettering dengan alat tulis yang lain seperti micron, sharpie dan kuas (biasa disebut dengan istilah brush lettering) . Alat – alat tulis ini bisa ditemukan di toko buku, kecuali pen holder vintage dan nib, saya sendiri beli online. 

  

Jadi sebenarnya apa sih lettering itu? Dari berbagai penjelasan yang saya pelajari, bisa saya simpulkan kalau lettering itu adalah seni menuliskan huruf. Dan lettering bisa menggunakan alat tulis apa saja. 

Nah selanjutnya saya akan bahas bagaimana cara memulai lettering. Sebenarnya sederhana saja seperti waktu kecil kita belajar menulis. Untuk awal kita hanya memerlukan pensil dan kertas, lalu cobalah menuliskan dengan indah semua abjad yang ada. 

  

  

Saya sarankan memakai kertas bergaris agar kita terbiasa dengan ukuran yang stabil dan bisa menulis rapi dan lurus. Walaupun ke depannya kita bisa saja menulis naik turun dan bebas sesuai keinginan hati, namun untuk belajar kestabilan, saya sarankan di awal menulis lurus dan sesuai garis. Berikut saya juga lampirkan panduan untuk belajar menulis. 

  
Seperti yang bisa kita lihat di gambar atas, komposisi dalam menulis huruf dimulai dari baseline, yaitu garis dasar memulai tulisan sampai pada waistline yaitu batasan ukuran huruf. Selanjutnya ada descender, garis di bawah baseline untuk huruf – huruf yang menurun ke bawah seperti f,g,j , dll. Dan terakhir ascender yaitu bagian atas untuk batasan huruf yang naik, seperti b, d, k, l, dll.

Panduan dasar ini saya temukan dari berbagai sumber sebagai patokan belajar menulis. Bahkan untuk kaligrafi modern, ada acuan yang lebih ketat lagi seperti derajat kemiringan huruf (biasa disebut slant) dan spasi antar huruf yang harus selalu terjaga.  Namun saya tidak akan membahasnya disini, karena saya juga bukan seorang kaligrafer  profesional , hanya menekuni hobi lettering saja yang kemudian saya kembangkan dengan gaya tulisan saya sendiri. 

Selanjutnya setelah memakai pensil , saya memyarankan mencoba memakai kuas atau brush dengan cat air. Saya sendiri memakai brush merk Lyra dengan ukuran no 1 dan sumi ink (bisa bbeli di Daiso) atau cat air pentel untuk latihan. 

  
Sebenarnya ada macam – macam stroke (gerakan/bentuk) dalam lettering  yang bisa dipelajari sebagai panduan dasar menulis lettering ini, mungkin nanti di part 2 lanjutan dari post belajar  lettering ini akan saya jelaskan (kalau masih ada yang berminat, hehe). 

Buat saya sih karena lettering ini berupa hobi ya dibawa enjoy saja, dan hasilnya juga bisa dinikmati sendiri, ya syukur – syukur bisa dinikmati oleh lebih banyak orang. Untuk melihat tulisan – tulisan saya  bisa follow instagram @letteringmay atau line id: mayamelivyanti , siapa tahu kita bisa saling sharing tulisan bersama 🙂