Home #FFBerantai Trattoria

20120410-170019.jpg

Posisiku masih seperti 15 menit lalu, Kedua tangan memangku dagu dengan kepalan, persis seperti sebuah lukisan di depan mejaku. Sementara mataku  sesekali melihat layar blackberry yang tergeletak di meja dekat segelas wine, menunggu kabar dari dia yang sedari tadi kunanti kedatangannya. Hmm, tumben dia telat kali ini, tapi tak masalah buatku. Menunggu di Trattoria selalu menyenangkan, mungkin karena masakan Itali memang favoritku, aku masih bisa memilih yang vegetarian dan rendah lemak, dan ku seimbangkan dengan fitness juga tentunya. Dan pastinya karena Roberto, pemilik restauran ini selalu banyak cerita, tak bosan rasanya mendengar ceritanya tentang desa tempat asalnya, selalu menarik.

Sudah tiga kali kita bertemu di tempat ini, dan semenjak aku mengenal restauran ini, juga dirinya, aku seperti menemukan diriku sendiri yang telah lama hilang. Tak bisa kupungkiri setiap kali berjumpa dengannya, dadaku kembali berdetak tak karuan. Apalagi melihat mata bulatnya, tiap kali menatap langsung ke mataku, entah apa ia menangkap sesuatu yang lain entah tidak.

Seberapapun aku berjanji untuk tidak salah tingkah di depannya, namun sesering itu pun aku berbuat hal yang bodoh. Seperti sekarang ini, aku memakai sepasang sepatu yang berbeda, ah sial, semoga ia tidak melihatnya.  Entah bagaimana lelaki mapan hampir separuh baya sepertiku bisa gelagapan dibuatnya. Kalau bukan karena persoalan bisnis ini, aku tidak mungkin bertemu dengannya. Ia adalah seorang wanita muda yang smart, seorang script writer handal dari sebuah perusahaan advertising yang kini bekerja sebagai freelance. Dan sangat kebetulan sekali aku dikenalkan oleh teman dari seorang teman, karena perusahaanku perlu seseorang untuk menulis company profile yang unik dan khas.

Sekalipun kami baru berkenalan, tapi aku sudah sangat hafal bau parfumnya, Happy Clinique, manis dan lembut, klasik, juga ceria, sama seperti kepribadiannya. Aku juga hafal lekuk senyumnya, setiap kali ia menertawakan ideku yang konyol baginya, ia mudah tertawa.   Juga mata bulatnya dibalik kacamata gaulnya, aku suka caranya melirik ketika sedang memikirkan sesuatu, seberapapun aku ingin melihat bagian tubuh lainnya yang bagiku mempesona, namun aku selalu ingin kembali ke matanya, mata yang menuntun jalanku, seperti pulang ke rumah.

Katanya hidup itu pada akhirnya hanya untuk dua hal, pulang dengan nyaman ke sebuah rumah, dan bisa tidur nyenyak. Jujur, dua hal itu merupakan luxury bagiku, sesuatu yang mahal harganya, lebih mahal dibanding apartmen cukup mewah milikku di daerah Thamrin, dan tempat tidurku yang sangat empuk yang bernilai jutaan harganya. Pikiranku kembali melantunkan sebuah lagu dari Michael Bubble,

I wanna go home
Let me go home

Suara dering dari smartphone ku membuyarkan anganku tentangnya, kubaca satu pesan,

Yang, aku nggak bisa pulang cepet lagi nih malam ini, ada meeting lagi, nanti order makanan aja ya, jangan lupa dolly dikasi makan ya, see u.

Sudah kuduga, seperti malam – malam sebelumnya.

“Halo, Pak..sudah lama menunggu ya? Sori aku telat sedikit, lumayan macet.”

Ah suara lembut itu, berdiri di hadapanku kini, seperti membawaku kembali dari ketersesatanku, mungkinkah aku bisa membangun rumah dengannya? Ah aku sudah berpikir terlalu jauh. Aku hanya ingin pertemuan – pertemuan dengannya menjadi rumah untukku. Ya Tuhan, bolehkah aku meminta permohonan itu, untuk pulang ke hatinya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s