Dilema Gisella #20harinulisduet day 3 with @krisnafir

20120212-181922.jpg

Memandangi langit menumpahkan seluruh isinya di malam hari yang dingin ini membuatku semakin gelisah. Malam – malam basah, dan hanya pelukan darinya yang kurindukan, membuatku semakin resah. Kucoba melihat ponselku yang sedari tadi memanggil – manggil namanya di urutan pertama dial number, namun sepertinya sinyal semakin menjadi momok bagi kami. Ya, tunanganku yang kini masih berada di luar daerah sampai sebulan ke depan semakin menyiksaku dengan jarak yang dibuatnya.

“Tapi kan aku sudah berjanji, aku tidak mungkin mengingkari, tunggulah aku sayang, sebentar lagi.” begitu jelasnya setiap malam minggu kepadaku, ketika hati ini mulai merengek kesepian. Dan tidak bisa kupungkiri akhirnya aku menyerah pada keadaan, pada ketiadaan hangat tubuhnya, karena tidak menemukannya, maka aku mulai mencari pengganti dirinya. Sudah 3 minggu ini, Randy, teman sekantorku yang baru, sebelah kubikelku, yang kadang kejahilannya nyebelin, tapi tingkahnya yang kocak selalu bisa membuatku tertawa, dan semakin hari kurasakan hadirnya semakin mengisi kekosongan hari – hariku.

Randy memang sangat kebalikan dari Tommy, dia lebih rileks dan sangat mudah bergaul dengan siapa saja. Ajakan menonton darinya awalnya kuanggap lelucon belaka, sampai akhirnya di satu sore hari Sabtu, aku pun menyerah dan mengikuti permintaannya. Kami memang tidak terlibat suatu janji atau komitmen apapun, just having fun, dan menikmati kebersamaan berdua. Sampai di satu titik, ada satu keinginan didalam diriku yang menuntut lebih darinya, dan kurasakan hal yang sama dari Randy, we crossed the line.

“Selingkuh? Itu kata terakhir yang seharusnya tidak pernah kamu tanyakan, sayang, bagaimana aku bisa selingkuh? Teman – temanku cowok semua, dan disini hutan lho, mau selingkuh sama monyet apa?” satu kali aku pernah bertanya pada Tommy tentang hal ini, dan ia menjawab sangat yakin. Tommy tidak tahu kalau pertanyaan itu sebenarnya kuajukan untuk diriku sendiri, bisakah aku selingkuh? Sementara saat ini yang kubutuhkan hanyalah keberadaan dirinya, itu saja tidak cukup untuk membuatnya terbang dan meninggalkan semua pekerjaannya dan menemuiku. Ah, sudahlah, mungkin memang harus begini, namun entah sampai kapan, aku pun tidak tahu.

Aku segera menelpon Randy, siapa tahu, dia tidak sibuk, dan bisa bertemu malam ini, aku tidak mau kesepian.

Ya Gisella sayang?” suara Randy yang lembut terdengar dari dalam ponselku.
“Kamu lagi di mana Ran? Kita nonton Lord of The Rings yuk, katanya rame banget lho sekuel terakhirnya!” ajakku bersemangat.
“Aduh, maaf banget Gisel, aku lagi sibuk packing nih, aku kan baru pindah apartemen.” tolak Randy dengan nada menyesal.
“Oh, gitu ya? Kabari aku kalau kamu sudah lowong ya Ran..” sahutku kecewa.
“Oke Gisel, pasti aku langsung hubungi kamu nanti.” janji Randy dengan nada meyakinkan.
Klik.
Sementara apa yang terjadi dengan Randy tidak diketahui Gisella, di depan pintu auditorium bioskop, diam – diam Randy mematikan ponselnya, lalu berjalan memasuki auditorium dan kembali duduk di kursinya.
“Telepon dari siapa Ran?” tanya seorang gadis dengan rambut berpotongan pixie yang duduk di sebelahnya.
“Biasa, dari kantor.” kata Randy tersenyum, meskipun gadis itu tidak bisa melihat senyum Randy dalam auditorium yang gelap.
Gadis pixie itu mengambil segenggam popcorn dan perhatiannya kembali tertuju pada aksi Legolas, salah satu tokoh ‘penjaga’ cincin dalam trilogi The Lord of The Rings. Randy beruntung, pantulan cahaya dari layar auditorium tidak mampu memperlihatkan kilat kebohongan dalam matanya.

***

Bip.
Secepat kilat aku membaca pesan yang masuk ke message popup-ku, demi melihat nama Randy di baris pengirimnya.

“Hai Gisel, apartemenku sudah rapi sekarang.. Kamu udah jadi nonton Lord of The Rings? Kalau belum, kita nonton yuk malam ini, aku juga pengen banget nonton film itu.”

Pesan dari Randy itu bagai memercikan air soda segar ke kerongkonganku yang kering, saat yang tersedia di kantin hanya air mineral tidak dingin. Serta merta aku mengetikkan pesan balasan untuk menyetujui ajakan Randy.

“Gisel, kamu udah nonton Lord of The Rings? Kamu harus nonton Gisel, kalau ga mau penasaran ama akhir kisah si cincin.” kata Andrea, gadis berpotongan rambut pixie yang kebetulan hari ini makan siang semeja denganku. Biasanya Andrea lebih memilih untuk berkumpul dengan rekan-rekan satu lantai-nya di meja sudut.

“Tenang, aku mau nonton malam ini.” ujarku antusias.
“Baguslah. Ngomong-ngomong, kau mau nonton dengan siapa?” lanjut Andrea.
“Dengan Randy.” jawabku santai.
“Randy? Tapi dia kan sudah nonton denganku kemarin.” ucap Andrea heran.
“Apa? Dia udah nonton sama kamu?!” intonasiku meninggi.
“Iya, tunggu.. kalau kamu ga percaya, aku ada fotonya di sini..” tambah Andrea seraya mengeluarkan ponselnya, memencet tombolnya beberapa kali, lalu menunjukkan layarnya padaku.
Itu foto Andrea bersama Randy. Di belakang mereka terlihat poster yang bertuliskan ‘The Lord of The Rings 3 : The Return of The King’. Membuatku terhenyak dan lemas seketika. Syukurlah aku sedang duduk dan bisa bertumpu pada sandaran kursi.

***

Sudah tiga hari ini perasaanku campur aduk, antara jengkel dengan diri sendiri karena menyadari bahwa Randy yang tidak jujur itu sama sekali tidak berhak mendapatkan kasih sayangku, dan perasaan bersalah yang mengikuti kemudian, walaupun hanya sedikit yang aku rasakan, namun aku telah mengkhianati Tommy.

Tok Tok.

Aku mengintip dari sela tirai jendela rumah dengan lunglai. Sore itu aku tidak mengharapkan siapa – siapa datang ke rumah, namun bayangan pria yang sedang berdiri di depan pintu rumah membuatku tak percaya, dan mengedip-ngedipkan mata beberapa kali untuk meyakinkan siapa yang kulihat.

“Tommy?!” pekikku tertahan, tak percaya dengan sosok yang berdiri di hadapanku.

“Surprise!!!” kata Tommy, menyeringai lebar. Seringai khasnya yang selalu membuatku rindu.

“Kok, kamu..bisa kesini?” tanyaku heran.

“Hmm, ada malaikat datang ke kamarku kemarin, dia nitip surat, katanya ada kamu yang rindu setengah mati, dan menyuruhku datang.”

“Oh Tommy, kamu nggak tahu betapa bahagianya aku sekarang, dan aku tidak mau ini berakhir, aku mau selamanya denganmu, dan aku tidak peduli kalau kamu jauh atau dekat, karena cintamu yang kuat akan selalu membuatku bertahan.”

setetes air mata mengalir di pipiku, dan Tommy mengusapnya, membalas dengan kecupan pasti dan hangat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s