Kereta

20120131-123751.jpg

Empat jam setengah. Seharusnya waktu yang baru saja berlalu bisa menjadi waktu produktif bagiku, namun ternyata ada kamu, selalu berlari-lari di pikiranku sejak pagi kuinjakkan kaki di gerbong kereta.

Aku benci waktu ini sungguh. Semua bayang tentangmu, dua tahun lalu, mengucapkan selamat tinggal padaku, tepat di saat peluit berbunyi, kau sebutkan kata cinta terakhir lewat bibirmu, yang mendarat manis di tepi bibirku.
“Aku mencintaimu selalu, but forget me, please.”

Kau kira apa yang telah terkatakan bisa membuatku semakin cepat melupakanmu? Kau salah besar. Ada hal – hal yang seharusnya tidak pernah terucap, namun kau mengucapkannya juga.
Aku benci waktu ini, sungguh.
Kursi 7A-B, tempat pertama kita bertemu. Perjalanan panjang, Surabaya – Bandung, dan kita terdampar pada percakapan panjang, mulai dari siapa namamu, apa kerjamu, sudah nonton film apa terbaru, sampai mantan kekasihku. Dan kita berhenti di satu titik di mana hanya pandangan mata yang bisa berbicara, aku tahu kita sedang jatuh cinta.

Perjalanan dari kereta satu ke kereta yang kemudian,lalu sampai lah kita pada kereta terakhir, dimana kau akan pergi dan tidak kembali lagi ke kota ini,

“Ada apa, kenapa, mengapa?” semua pertanyaan bombardir mendarat di wajahmu saat itu, dan kau hanya diam, tidak berbisik, tidak ada satu pun tanda di matamu, aku tidak bisa membacamu.

Berpuluh kali sewaktu kemarin aku bisa dengan mudah mengerti apa yang sedang kau rasakan, namun saat itu sepertinya kau menghilang entah kemana, di saat semuanya seperti berjalan dengan sempurna. I guess i can’t never tell what love is, is it the fact that being in love, or bleeding in love. Yang aku tahu hanya kereta dan perjalanan di dalamnya yang membawaku berangan – angan, ya mungkin semua hanya sebatas kenangan.

Aku benci waktu ini, sungguh. Kereta berlalu lalang, buatku pusing bukan kepalang, sampai waktunya aku berhenti di kotamu sekarang. Kuangkat tas travelku sambil memegang sebuah surat undangan, kurasa ini milikmu, ya aku harus mengembalikannya padamu.

-argo wilis, on my way to surabaya-

2 respons untuk ‘Kereta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s