Soto Koya

Aku akan selalu ingat momen seperti ini.
Sore yang gelisah, harum tanah basah, dan rindu yang mendesah.
Lucu. Di saat sepertinya aku yakin telah jatuh cinta padanya, ia malah menjauh.

Layar hp mungkin jadi pertanda cinta yang sudah mati, tidak ada namanya lagi di last call ku kini.
Semua sirna sudah, di satu mangkok soto koya, santapan terakhir kita sebulan lalu.
“Do you believe in soulmate?”, tanyaku sambil mencoba menyembunyikan getaran kencang yang menggebu.
“Ya, I do believe.” jawabnya sambil menyeruput kuah soto yang panas, mengalahkan dinginnya malam.
“I think I found my soulmate, in you.” kataku tenang, berharap apa yang kemudian datang dari bibirnya yang selama ini kudamba, mengucapkan hal yang sama. Namun nyatanya, ia berhenti di satu sendok terakhir, tanpa menghabiskan yang tinggal sedikit saja tersisa di dalam mangkoknya.
Jawabannya cuma satu, “I do too, but you know we can’t.”

Aku sudah tahu apa jawabnya saat itu, tidak perlu diragukan lagi. Namun aku hanya butuh mengatakannya. Karena apalah artinya merasa tanpa berkata?

Sore yang resah, dibuyarkan oleh klakson mobil, lalu pintu dibuka buru-buru.
“Hai, sayang..hmm..kamu masak apa sore ini, istriku? Aku udah laper banget, mandi dulu ya.”

Meski ciuman hangat sedikit menenangkan jiwa, namun sepi itu masih menggeliat di satu ruang kosong, yang masih saja ingin kuisi, dengan kisahnya.

#nomention

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s