Sepucuk Surat (bukan) Dariku #15HariNgeblogFF day 7

20120118-060528.jpg

Aku sengaja mencuri waktu untuk bertemu dengannya di tempat biasa kita bertemu, dan ku tahu di jam ini ia pasti berada di sana.

Di bawah pohon besar, di sebuah bangku kayu, menghadap selat Bosphorus, memandang jauh masa depan kita, seakan tiada batas yang bisa mengukurnya. Dua manusia, dari negara berbeda, namun aku selalu merasa ada satu ikatan dengannya, semenjak kita pertama bertemu. Dan disana kita berbagi kisah, tentang cinta, tentang gairah, tentang rasa yang ia tumpahkan dalam warna, pensil dan kertas selalu dibawanya,sebagai senjata menyimpan mimpi.

“Kamu tahu kenapa aku melukis? Karena dalam hatiku seperti ada api, setiap kali kumerasa sesuatu, dan aku akan mati jika kutidak meredamnya dengan lukisan, bagaimana denganmu? Apa yang membuatmu menulis puisi?” begitu tanyanya suatu kali padaku,

“Aku tidak tahu persis sejak kapan aku mulai menulis, namun yang kutahu pasti, aku tidak bisa hidup tanpanya, seperti halnya bernafas, aku akan menulis apa saja, bahkan jika inspirasi itu tak datang, aku harus menulis.” kataku sambil memandang kedua mata hijaunya yang teduh, lalu ia hanya tersenyum, jiwa kita bersatu di tempat ini, namun aku selalu ragu untuk mengungkapkannya, kubiarkan waktu yang akan berbicara padanya, membuktikan bahwa aku selalu berada disini untuknya.

“Merhaba..!” sapanya ketika melihatku datang tiba-tiba lalu duduk di sampingnya.

“Kamu bolos kelas ya?” tanyanya sambil tersenyum, memperlihatkan gigi kelincinya, aku suka.

“Yeah..aku bosan”, jawabku, sambil tersenyum malu, takut ketahuan alasanku yang sebenarnya.

“Hey, apa itu di tanganmu?” tanyanya sambil memperhatikan bungkusan kecil yang kuterima dari teman sekelasku, Gina, kami sama-sama berteman dan ikut cinema club di kampus.

“Ohya, ini ada titipan untukmu dari Gina.” lalu ia mengambil bungkusan itu dari tanganku dengan wajah yang penasaran, lalu segera membukanya seperti layaknya seorang anak kecil baru mendapat hadiah kenaikan kelas, bersemangat. Jujur, aku belum pernah melihatnya seperti itu. Lalu kulihat ia membuka sebuah kotak coklat dan ada kertas warna merah muda di dalamnya, lalu membacanya sambil tersenyum. Air mukanya berubah tersipu malu dan pipinya memerah, satu lagi pemandangan yang belum pernah kulihat sebelumnya, ada apa ini, hatiku penuh pertanyaan.

“Eh, maaf, aku harus pergi bertemu dengan Gina, ehm..sampai bertemu besok ya di cinema club! “
Tak kusangka ia hanya pergi begitu saja dari hadapanku sambil tersenyum gembira memandangi surat merah muda, meninggalkanku sendirian di bangku ini dengan hati gelisah, berharap sepucuk surat yang bukan dariku tidak berarti apa-apa baginya, walaupun jujur aku sangat ragu.

4 respons untuk ‘Sepucuk Surat (bukan) Dariku #15HariNgeblogFF day 7

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s