Jadillah milikku, mau? #15HariNgeblogFF day 5

Pagi itu basah, seperti bibirnya. kutahu dari bibirku yang baru saja mendarat di atasnya, terburu-buru, sebelum akhirnya ia beranjak sambil merapikan baju.

Rasanya seperti anggur masam, entah bekas pesta siapa semalam. Namun aku tidak perduli, sudah terlalu lama ku ingin menahannya disini, di sampingku sampai pagi.

Sesosok tubuhnya beranjak pergi begitu saja dari depanku, lalu entah apa yang membuatnya berhenti.

“Hey, Sorry, I guess i’m drunk, tapi thanks mau jemput aku semalam, you’re truly my best friend ever, Dan..aku telpon kamu nanti ya.”

Aku terdiam, tanpa suara, hanya bisa memandangnya, aku masih ingin bersamanya, aku tidak ingin ini akan menjadi seperti yang sudah-sudah.

“Sahabat? Nay, aku bahkan siap kalau seseorang minta jiwaku untukmu sekarang.”

“Maksudmu?”

“Maksudku, aku ingin berhenti menjadi seseorang yang bisa kamu telpon untuk menjemputmu ketika kamu mabuk dan nggak bisa nyetir sendiri, aku ingin berhenti menjadi seseorang yang kamu tinggal setiap minggu pagi tanpa alasan apa-apa setelah apa yang kita lakukan semalam, dan berpura-pura kalau kamu lupa..”

“What? Kamu seenaknya banget ngomong gitu ke aku?! Aku udah kenal kamu lama, Dan! I trust you.. I believe in you! Makanya aku selalu bisa berharap sama kamu untuk tolong aku kapan aja, you’re my best friend! Tapi kalau sekarang kamu sudah cape, sudah nggak mau jadi sahabatku lagi, fine!” dan seperti biasa ia memotong pembicaraan, dengan serentetan pemikirannya sendiri tanpa melihat hatiku yang merana.

“Nay,I love you, can’t you see? Saat aku harus menyelamatkanmu itu indah, bahkan lebih indah kalau bisa menghabiskan malam denganmu, dan aku ingin itu menjadi selamanya, Nay..dan terserah kalau kamu pikir aku jahat atau lain sebagainya. Tapi di hatiku cuma ada kamu, jadillah milikku Nay, would you?”
Kini aku yang membuatnya menangis, oh Tuhan, apa yang baru saja kukatakan? Aku tidak mau menyakitinya, tapi aku juga sudah lelah hanya menjadi sahabatnya. Walaupun aku akan tetap menjadi sahabatnya kalau memang ia menginginkan hanya begitu.

“Dan..aku..i’m speechless, sorry I got to go..”
Ia terus menangis setelah mendengar semua apa yang ada di hatiku, bagiku itu seperti menggantung diri sendiri. Setelah sebuah kecupan di pipi, entah apa maksudnya, ia pun pergi, dan hatiku pun dibawanya, setiap kali ia meninggalkanku.

6 respons untuk โ€˜Jadillah milikku, mau? #15HariNgeblogFF day 5โ€™

      • Teguh Puja berkata:

        Begitulah, sebagian besar orang pernah merasakannya. Selain digantung, mungkin (disadari atau gak) kita juga pernah membuat orang lain merasa digantung. ๐Ÿ˜€

        Thanks for the hospitality, Maya. ๐Ÿ˜‰

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s